Jingga

Cerita sehari-hariMay 29, 2008 12:10 pm

Yesus menggenapi nubuat Perjanjian Lama mengenai mesias yang ditulis beratus-ratus tahun sebelum kelahiran-Nya, Yesus menerima penyembahan dari manusia,  Yesus tidak berdosa, Yesus hidup penuh dengan mujizat-mujizat, dan Yesus bangkit dari kematian membuktikan bahwa Yesus adalah benar-benar Tuhan yang menjelma menjadi manusia.

Dengan jelas Yesus menyatakan diri dan membuktikan diri-Nya Tuhan.
Apakah engkau sudah menerima Yesus sebagai Tuhan? Jika engkau belum menerima Yesus sebagai Tuhan, terimalah Dia sekarang. Terimalah Dia sebagai Tuhan, terima juga Yesus sebagai juruselamat yang telah mati menanggung hukuman dosa yang seharusnya engkau tanggung. Jika engkau mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, maka dosa-dosamu akan diampuni karena hukumannya sudah lunas ditanggung oleh Tuhan Yesus.  Maukah saudara?

Cerita sehari-hari 12:08 pm

Karena itu perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. karena waktu adalah jahat. Pengertian waktu adalah jahat, merupakan proses yang terjadi secara alamiah pagi, siang, sore, dan malam. Di dalam waktu itu, iblis berusaha menjebak dan menjatuhkan setiap orang percaya. Di dalam waktu itu, iblis berusaha menghancurkan kehidupan orang-orang percaya. Itulah sebabnya maka dikatakan bahwa waktu itu adalah jahat.

Tetapi, jangan karena waktu itu disebut jahat maka kita punya pemikiran tidak boleh menggunakan waktu, tidak boleh mengatur waktu, tidak perlu memakai jam, dan sebagainya. Yang perlu kita sadari adalah bahwa dalam perjalanan waktu itu pun iblis berkarya terus-menerus untuk menjatuhkan anak-anak Tuhan. Kalau kita tidak bijaksana, tidak berpegangan erat pada Tuhan, pada saat itulah disebut waktu menjadi jahat, sebab kita meniti hari-hari yang berbahaya

 

kita dituntut untuk mampu bijaksana supaya kita juga melihat, bahwa dalam hidup, bukan hanya sisi tambah: tambah uang, tambah rumah yang harus dinikmati, tetapi sisi kurang juga harus kita nikmati. Artinya, kalau kita hanya bersyukur karena sehat, orang dunia juga bisa melakukan hal yang sama. Sebagai orang percaya, bersyukur jugalah pada waktu sakit, karena bisa jadi Tuhan sedang menegur. Kalau sakit karena salah/ulah sendiri, perbaikilah diri, jangan diulangi lagi kesalahan itu. Sebab jika kesalahan yang sama masih diulangi, itu bebal namanya

kita perlu memperhatikan dengan seksama bagaimana kita hidup. Janganlah seperti orang bebal tetapi seperti orang arif. Orang bebal adalah orang yang sudah tahu salah, dikasih tahu bahwa itu salah, tetapi masih bikin salah. Sebaliknya, kalau orang berbuat salah karena tidak tahu, dikasih tahu (kesalahannya) lalu minta maaf dan tidak melakukan ke-salahan lagi, itu namanya normal, karena manusia punya kelemahan. Tetapi, sudah tahu bahwa itu salah, namun selalu bikin salah, itu namanya bebal

Kita pun mestinya sadar, bahwa pada dasarnya kebanyakan dari kita punya perilaku atau konsep hidup yang bebal. Buktinya, kita selalu mengaku takut akan Tuhan, tetapi perilaku hidup kita memperlihatkan bahwa kita tidak takut Tuhan. Artinya, takut Tuhan itu hanya sebatas mulut. Jika kita benar-benar takut Tuhan, mana mungkin gereja ribut, jemaat saling menjatuhkan dan saling menghancurkan? Kalau takut Tuhan, mana mungkin pengurus gereja menilap uang, dan sebagainya Kalau takut Tuhan, orang pasti tidak akan hitung-hitungan dalam pelayanan. Contoh sikap bebal yang lain adalah banyak orang tidak menyukai kebenaran, lalu lari dari kebenaran, tetapi merasa dirinya benar, karena mengaku (merasa) takut akan Tuhan. Jadi, kebebalan itu justru dimulai dari dalam hidup kita. Kita tidak suka kebenaran, tetapi fenomena-fenomena kebenaran, bukan kebenaran yang hakiki. Kita hanya giat dalam melakukan aktivitas religius. Kita hebat dalam beribadah, hebat melantunkan doa-doa, tetapi sejatinya, perilaku kita jauh dari tuntutan Tuhan.

Maka kita harus berhati-hati, jangan sampai terjebak yang pada akhirnya menjadikan agama itu hanya seperti ekstasi bagi kita. Tuhan menjadi sedih karena agama hanya menjadi pelarian. Gereja itu cuma menjadi tempat mencari ketenangan sesaat, setelah itu kembali menggeluti kehidupan dunia: berdagang tidak jujur, menipu di sana-sini, sementara ucapan: “haleluya” terus meluncur dari mulut. Janganlah bebal, tetapi jadilah seperti orang arif: mau belajar, tahu, dan semakin bijak. Jadilah seperti orang arif, yang semakin bertambah pengetahuannya, makin rendah pula hatinya. Pepatah mengatakan: jadilah seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Begitulah peri-laku orang arif yang mestinya menjadi ciri khas orang-orang percaya. Kalau pepatah dunia saja begitu manis dan indah, masak orang Kristen tidak bisa berperilaku indah dan manis?

Jadi, di dalam pertumbuhan dan perkembangan kehidupan kita, dari bebal menuju arif, ada perjalanan, yaitu perjalanan waktu, hari lepas hari. Oleh karena itu kita harus menggunakan waktu dengan bijak. Coba renungkan perjalanan hidup dari hari ke hari supaya tidak terperangkap pada jebakan si jahat itu. Jika waktu tidak membuat kita menjadi semakin arif, malah semakin tidak karu-karuan, artinya kita terjebak, sebab sang waktu tidak membawa kita ke dalam kesempurnaan pengenalan akan Tuhan

Arti Pedoman 12:07 pm

Masalah-masalah yang kita hadapi bisa membuat kita jatuh atau bertumbuh, tergantung dari bagaimana cara kita menanggapinya. Sangat disayangkan banyak orang gagal untuk melihat bagaimana Tuhan menggunakan masalah untuk kebaikan mereka. Mereka lebih memilih untuk bertindak bodoh dan membenci masalah-masalah mereka daripada menghadapi dan merenungkan kebaikan apa yang bisa mereka dapat dari masalah-masalah tersebut

Ada lima cara Tuhan menggunakan masalah-masalah dalam kehidupan kita untuk menjadi sesuatu kebaikan bagi kita:

1. Tuhan menggunakan masalah untuk MENGARAHKAN kita. Kadang-kadang Tuhan harus menyalakan api di bawah kita untuk membuat kita tetap bergerak. Sering kali masalah yang kita hadapi akan mengarahkan kita ke arah yang baru dan memberikan  kita motivasi untuk berubah. Ada kalanya masalah menjadi cara yang Tuhan pakai untuk menarik perhatian kita.

2. Tuhan menggunakan masalah untuk MENGUJI kita. Manusia bagaikan teh celup… jika anda ingin tahu apa yang ada di dalamnya, celupkan saja ke dalam air panas! Tuhan kadang ingin menguji kesetiaan kita melalui masalah-masalah yang kita hadapi

3. Tuhan menggunakan masalah untuk MENGOREKSI kita. Ada pelajaran-pelajaran yang hanya dapat kita pelajari melalui penderitaan dan kegagalan.  Mungkin waktu kita masih kecil orang tua kita mengajar kita untuk tidak boleh menyentuh kompor yang panas. Tetapi mungkin kita baru benar-benar belajar justru setelah tangan kita merasakan panasnya. Kadang-kadang kita baru bisa menghargai sesuatu… kesehatan, teman, hubungan…, saat kita sudah kehilangan

4. Tuhan menggunakan masalah untuk MELINDUNGI kita. Suatu masalah bisa menjadi berkat jika masalah tersebut  menghindarkan kita dari bahaya. Tahun lalu ada seorang Kristen yang diberhentikan dari pekerjaannya karena ia menolak untuk melakukan sesuatu yang tidak etis bagi bossnya. Ia menjadi mengganggur, tetapi justru dari masalah itulah ia terhindar dari ditangkap dan dimasukan ke dalam penjara, karena setahun kemudian tindakan boss itu terbongkar.

5. Tuhan menggunakan masalah untuk MENYEMPURNAKAN kita. Jika kita menanggapi masalah dengan cara dan pandangan yang benar, masalah tersebut bisa membentuk kita. Tuhan lebih memperhatikan karakter kita daripada kenyamanan kita. Hanya hubungan kita dengan Tuhan yang akan kita bawa sampai kekal