Dewasa ini dunia dikuasai oleh akal budi dan ilmu pengetahuan. Pelbagai pendekatan dan penemuan diciptakan guna membuka tabir kehidupan. Walau demikian, masih tinggal banyak hal yang bersifat misteri alias sulit dipecahkan atau tak dapat dijawab, baik oleh akal budi maupun teknologi. Sejalan dengan perkembangan ini, tak bisa disangkal sekarang juga muncul banyak usaha atau pendekatan dalam soal iman dengan ditandai proses pencarian yang terus-menerus dalam diri orang-orang percaya: seminar, rekoleksi, retret, latihan rohani dan masih banyak bentuk kegiatan rohani lainnya. Orang memang ingin imannya tumbuh dan berkembang, menghadapi arus / pengaruh dunia yang mengalir sangat dahsyat menerpa kehidupan manusia itu sendiri.

“Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: terbantunlah engkau dan tertanamlah di laut, dan ia akan taat kepadamu.” Kata-kata ini diucapkan Yesus kepada para murid yang datang kepada-Nya minta supaya iman mereka ditambahkan. Memang saudara-saudari, iman adalah kekuatan yang luar biasa dalam hidup orang percaya. Bayangkan kalau orang menyebut diri percaya, tetapi tidak mempunyai iman; dia menipu diri bahkan mati kerohaniannya. Maka seperti para murid kita pun harus mohon kepada Yesus untuk meneguhkan dan menguatkan iman kita. Kenapa iman kita harus kuat?

Pertama, karena kehidupan manusia pada hakekatnya adalah pergumulan antara yang baik dan yang jahat. Dalam hidup, manusia terus-menerus ditawari dua kekuatan: menuju kepada keselamatan atau menuju kepada kebinasaan. IMAN yang kokoh memungkinkan manusia untuk selalu berada di jalan yang benar; jalan yang menghantar kepada keselamatan, sedangkan sebaliknya iman yang lemah akan membuat manusia terombang-ambing dalam arus kehidupan yang serba tidak pasti ini.

Kedua,  karena kesulitan dan tantangan terus datang silih berganti. Krisis yang terjadi dimana-mana bukan tidak mungkin mempengaruhi juga kehidupan iman seseorang. Berapa banyak orang yang menyangkal iman karena uang / kesulitan ekonomi, yang lain meninggalkan iman karena jodoh / masalah dalam rumahtanga, bahkan tidak sedikit yang berhenti beriman karena kuasa / cari kedudukan. Manusia pada dasarnya tidak lepas dari kesulitan dan persoalan. Iman adalah fondasi dalam menghadapi semua tantangan dan inspirasi untuk mencari jalan keluar dari kesulitan-kesulitan hidup.